DOMPU, NTB – bongkarfakta.com ~ Tragedi memilukan terjadi di Dusun Rinjani, Desa Nusa Jaya, Kecamatan Manggelewa, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Seorang anak yang masih duduk di bangku kelas V sekolah dasar (SD) meninggal dunia setelah tertimpa tiang besi yang digunakan sebagai penyangga instalasi listrik untuk kebutuhan sumur bor dalam pekerjaan proyek Balai Wilayah Sungai (BWS).
Peristiwa tersebut tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga memunculkan perhatian terhadap aspek keselamatan pekerjaan proyek infrastruktur yang berada tidak jauh dari aktivitas masyarakat.
Berdasarkan keterangan sejumlah warga, sebelum kejadian nahas itu berlangsung, korban mendatangi area pekerjaan untuk melihat aktivitas alat berat jenis ekskavator yang sedang melakukan penggalian saluran tersier di kawasan proyek Bendungan Tanju.
Namun, aktivitas yang awalnya hanya didorong rasa ingin tahu seorang anak tersebut berakhir tragis. Di sekitar lokasi penggalian terdapat tiang besi yang difungsikan sebagai penyangga instalasi listrik menuju sumur bor dalam proyek BWS.
Warga menduga, aktivitas penggalian saluran di dekat tiang tersebut menyebabkan kondisi tanah mengalami longsor sehingga tiang besi kehilangan kestabilan dan akhirnya roboh. Nahas, tiang besi itu kemudian menimpa korban hingga mengakibatkan anak tersebut meninggal dunia.
Pasca-kejadian, aparat kepolisian telah mendatangi lokasi dan melakukan penanganan awal. Area tempat robohnya tiang besi juga telah dipasangi garis polisi (police line) untuk mengamankan tempat kejadian perkara (TKP) sekaligus mendukung proses pemeriksaan lebih lanjut.
Pemeriksaan di lokasi menjadi penting untuk mengungkap penyebab pasti robohnya tiang besi tersebut, termasuk memastikan apakah terdapat faktor teknis yang berkaitan dengan aktivitas penggalian saluran tersier di sekitar instalasi sumur bor.
Peristiwa ini sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai penerapan standar keselamatan di lingkungan pekerjaan proyek Bendungan Tanju. Keberadaan alat berat, aktivitas penggalian, serta instalasi penunjang proyek yang berada berdekatan dengan area yang dapat diakses masyarakat semestinya mendapat perhatian serius dari pihak terkait.
Sejumlah aspek perlu mendapat penjelasan, mulai dari kelayakan pemasangan tiang besi, kondisi tanah di sekitar titik penggalian, jarak aman antara pekerjaan galian dan instalasi listrik, hingga langkah pengamanan untuk mencegah masyarakat, khususnya anak-anak, memasuki area yang berpotensi membahayakan.
Sampai berita ini diterbitkan, pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) belum berhasil dikonfirmasi untuk dimintai keterangan mengenai peristiwa tersebut. Klarifikasi diperlukan untuk menjelaskan hubungan pekerjaan galian saluran tersier dengan keberadaan tiang besi penyangga instalasi listrik sumur bor, termasuk sistem pengawasan dan penerapan prosedur keselamatan selama pekerjaan berlangsung.
Media ini tetap membuka ruang bagi pihak BWS maupun pelaksana proyek untuk menyampaikan penjelasan dan klarifikasi agar informasi yang disajikan kepada publik tetap utuh dan berimbang.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya berbicara tentang penyelesaian pekerjaan fisik, tetapi juga menyangkut perlindungan keselamatan masyarakat di sekitar lokasi proyek. Setiap tahapan pekerjaan semestinya dilaksanakan dengan pengamanan yang memadai agar tidak menimbulkan risiko bagi warga.
Di tengah upaya pembangunan Bendungan Tanju, meninggalnya seorang anak sekolah dasar menjadi peristiwa memilukan yang patut mendapat perhatian serius. Penyebab pasti kejadian dan aspek tanggung jawab pihak-pihak terkait kini perlu dijelaskan secara transparan berdasarkan hasil pemeriksaan pihak berwenang.( Om Jeks )


