Dompu NTB – bongkarfakta.com ~ Dunia pendidikan kembali tercoreng. Aksi kekerasan antar pelajar meledak di lingkungan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Hu’u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Peristiwa yang terjadi pada Selasa, 13 Januari 2026, sekitar pukul 11.00 Wita itu berujung pada dugaan penganiayaan dan pengeroyokan, menyebabkan tiga siswa mengalami luka robek dan benjolan serius di bagian kepala.
Kasus tersebut kini ditangani secara intensif oleh Kepolisian Sektor Hu’u, Polres Dompu. Laporan resmi diterima Sentral Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polsek Hu’u dari seorang pelajar bernama Yuda Saputra (17), yang menyaksikan langsung eskalasi kekerasan di lingkungan sekolah.
Berdasarkan hasil pendataan kepolisian, tiga pelajar tercatat sebagai korban. AF (16), siswa asal Desa Adu, Kecamatan Hu’u, mengalami luka robek di bagian samping kepala. YS (17), pelajar asal Desa Sawe, menderita luka robek di bagian depan kepala. Sementara RAP (16), pelajar asal Desa Marada, mengalami benjolan di kepala akibat benturan benda tumpul. Seluruh korban sempat dilarikan ke Puskesmas Rasabou untuk mendapatkan perawatan medis.
Polisi juga telah mengamankan tujuh terduga pelaku yang seluruhnya merupakan pelajar SMAN 1 Hu’u. Mereka masing-masing berinisial FF (16) dari Desa Hu’u, A (16) dari Desa Sawe, AA (17) dan Y (17) dari Desa Adu, serta F (17), H (17), dan S (16) dari Desa Hu’u. Ketujuhnya kini menjalani pemeriksaan intensif di Markas Polsek Hu’u.
Kronologi kejadian berlangsung cepat dan brutal. Insiden bermula ketika para korban berada di depan kelas dan melihat sekelompok siswa terlibat aksi saling kejar yang berujung perkelahian. Situasi yang semula berupa cekcok antar pelajar berubah menjadi kekerasan terbuka di tengah lingkungan sekolah.
Saat salah satu korban berupaya melerai perkelahian, situasi justru memanas. Dari arah belakang, seorang terduga pelaku datang membawa potongan papan kayu dan menghantamkan benda tersebut ke kepala korban. Pukulan keras itu mengakibatkan luka robek dan darah mengalir dari kepala korban. Tidak berhenti di situ, aksi kekerasan kembali terjadi di lokasi lain di area sekolah. Dua siswa lainnya menjadi sasaran pemukulan dan pengeroyokan, hingga menyebabkan luka robek dan benjolan di kepala.
Insiden tersebut sempat memicu kepanikan di lingkungan sekolah dan menyisakan trauma bagi para siswa. Aktivitas belajar mengajar pun terganggu sebelum pihak kepolisian turun tangan mengamankan situasi.
Merespons laporan tersebut, sekitar pukul 11.10 Wita, Kapolsek Hu’u IPDA Samsul Rizal langsung memerintahkan personelnya untuk bergerak cepat. Aparat kepolisian mendatangi tempat kejadian perkara (TKP), memastikan kondisi para korban di fasilitas kesehatan, serta mengamankan para terduga pelaku guna mencegah meluasnya konflik.
“Kami bergerak cepat setelah menerima laporan. Para terduga pelaku langsung diamankan, dan kami lakukan penggalangan kepada keluarga korban, keluarga terduga pelaku, serta pihak sekolah. Langkah ini penting agar tidak terjadi aksi balasan dan situasi kamtibmas tetap terjaga,” tegas IPDA Samsul Rizal.
Sementara itu, Kapolres Dompu AKBP Sodikin Fahrojin Nur, S.I.K., melalui Kasi Humas Polres Dompu IPTU I Nyoman Suardika, menegaskan sikap tegas institusinya terhadap segala bentuk kekerasan di dunia pendidikan.
“Kapolres Dompu menegaskan bahwa setiap tindakan kekerasan, terlebih yang melibatkan pelajar, tidak bisa ditoleransi. Penanganan dilakukan secara profesional dan berkeadilan. Namun kami juga mengedepankan pendekatan pembinaan dan pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi,” ujar IPTU Nyoman.
Hingga kini, seluruh terduga pelaku masih diamankan untuk proses hukum lebih lanjut, sementara para korban telah mendapatkan perawatan medis. Polisi memastikan situasi keamanan di wilayah hukum Polsek Hu’u berangsur kondusif. Penanganan perkara ini menjadi peringatan keras bahwa kekerasan di lingkungan pendidikan merupakan persoalan serius yang menuntut perhatian semua pihak.( Rizal )
